Tuesday, May 20, 2008

Jangan Memperistri seorang Akuntan atau Auditor

Pengalaman seseorang yang menikahi seorang wanita akuntan publik. Simak baik-baik ya: (",)

Saya menikahi wanita yang memiliki karir profesional: AKUNTAN PUBLIK. Ya, dia adalah seorang auditor. Dan coba tebak apa yang dilakukannya.

1. Dia menyuruhku untuk menggunakan metode LIFO saat mengambil makanan yang disimpan di kulkas. Aduh …

2. Dia menganggapku tidak berbakat dalam bermain dengan angka. Aku sih no problem, makanya dia yang mengurus anggaran rumah tangga. Eh, tiap akhir bulan dia bikin invoice tagihan profesional fee sama aku. Waktu kubilang kalau aku ini suaminya, bukan kliennya, dia malah minta advance payment.

3. Aku heran kenapa pengeluaran terus meningkat steadily, sehingga suatu hari, aku mengintip kertas-kertas yang ada di ordner berlabel “Current File”. Tak heran! Dia rupanya mencharge mileage (jarak) dan overtime ke dalam anggaran rumah tangga. Dia juga menagihkan Out of Pocket Expense ke dalamnya. Dia gila, dan aku udah bilang itu ke dia. Eh, dia malah bilang, “Ya enggaklah sayang, aku kan auditor …”

4. Setiap lembar kertas di rumah dicopy dan difilekan. Alasan dia, ada peraturan yang mengharuskan dia memaintain copy hasil kerjanya selama 10 tahun. Aku sungguh-sungguh khawatir …

5. Dia bilang kalau dia cinta aku, dan aku bilang kalau aku cinta dia juga. Tapi tetap aja, dia tidak pernah percaya. Katanya, ada kemungkinan terjadi mis-statement. Dan dia memintaku membuat Representation Letter mengenai masalah ini … Duhhh

6. Tahun lalu laporan keuangan rumah kami mendapatkan opini Qualified karena aku gak menyimpan supporting document atas expenseku

7. Awalnya aku heran, kenapa setiap akhir tahun selalu berdatangan surat-surat dari seluruh famili, kolega, termasuk warung di depan rumah. Ternyata, istriku mengirimi Confirmation Letter kepada mereka semua. Waktu aku protes, dia bilang konfirmasi dari pihak eksternal lebih realible. Cape deh …

8. Waktu istriku masak, dia sering tidak mengikuti resep. Bila resep bilang, tambahkan setengah sendok garam, atau satu sendok teh gula, atau setengah gelas air, dia selalu tidak peduli. Dia bilang kalau itu tidak material bila dibandingkan dengan seluruh menu yang disiapkan.

9. Aku bilang, dia itu gila. Tapi anehnya, semua orang bilang kalau dia auditor. Di kamus, ternyata kata “auditor” bukan sinonim untuk kata “gila”. Pasti kamusnya ketinggalan zaman .

10. Waktu kami menikah, dia memberikan Engagement Letter padaku. Awalnya aku bilang, “Oh, makasih ya sayang …” Ternyata setiap tahun dia memberikan surat yang sama. Katanya, standarnya mengharuskan dia melakukan itu bila ada indikasi kalau aku keliru memahami tujuan dan scope dari Engagement. Dia juga bilang, aku tidak bisa pisah dari dia begitu saja. Dia punya hak untuk didengar sebelum aku menunjuk orang lain. Dan dia juga menegaskan bila aku menunjuk orang lain menggantikan dia, maka harus ada komunikasi antara dia dan penggantinya, agar dia bisa menyampaikan keberatan profesionalnya. Mati kita.

11. Phew … Kadang kala, aku berpikir, kalau dia membahayakan going concernnya pernikahan ini. Duh … Kok aku jadi kebawa-bawa dia …

12. Ku kira pernikahanku ini sudah cukup gila, tapi ternyata ada temanku yang juga kawin dengan akuntan, punya cerita yang lebih parah. Istrinya mengkapitalisasi biaya pernikahan sebagai Preliminary Expenses, dan mengamortisasinya setiap tahun. Biaya-biaya yang dikeluarkan sebelum berumah tangga, juga dikapitalisasi sebagai biaya pra-pernikahan. Juga, waktu yang dihabiskannya selama pacaran sebelum menikah sedang dalam proses valuasi, untuk dimasukkan sebagai intangible assets.

Teman -teman, berpikirlah dua kali sebelum menikahi auditor. Kau harus mempertimbangkan besar risk sebelum memulai engagement. Duh … Aku ternyata sudah gila.


Continue reading...

Tentang Kejahatan

Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan?



Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?



Apakah kejahatan itu ada?



Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?



Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini,



"Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".



Seorang mahasiswa dengan berani menjawab,



"Betul. Dia yang menciptakan semuanya." kata mahasiswa tersebut.



Profesor itu menjawab,



"Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan.
Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita
menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah
kejahatan.".



Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis Profesor tersebut.



Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia
telah membuktikan kalau Kekristenan itu adalah sebuah mitos.



Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata,



"Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?".



"Tentu saja," jawab si Profesor.



Mahasiswa itu berdiri dan bertanya,



"Profesor, apakah dingin itu ada?".



"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah
sakit flu?" tanya si Profesor diiringi tawa mahasiswa lainnya.



Mahasiswa itu menjawab,



"Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang
kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah
ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak
bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata 'dingin' untuk
mendeskripsikan ketiadaan panas."



Mahasiswa itu melanjutkan,



"Profesor, apakah gelap itu ada?"



Profesor itu menjawab,



"Tentu saja itu ada."



Mahasiswa itu menjawab,



"Sekali lagi Anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah
keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap
tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya
menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang
setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu
ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.
kata 'gelap' dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."



Akhirnya, mahasiswa itu bertanya,



"Profesor, apakah kejahatan itu ada?"



Dengan bimbang profesor itu menjawab,



"Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat
setiap hari di koran. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara
manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."



Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,



"Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah
ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan itu adalah kata
yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak
menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih
Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas
dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."



Profesor itu terdiam.



Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.



Kisah nyata.



Taken from YouthCom Bulletin, Bethany Balikpapan, edisi 33, 29 Oktober 2006


Continue reading...

Monday, May 19, 2008

Di Balik Pendidikan Yang Terabaikan

Pendidikan di Indonesia bukan merupakan prioritas pimpinan kita, mungkin anak TK juga tahu. Mulai dari Infrastruktur hingga sistem yang carut marut adalah gambaran ketidakseriusan pemerintah untuk mengurusi pendidikan. Memang, ga ada yang bisa mereka dapat dari sini. Mereka, kaum instan yang ingin mendapat popularitas instan dari kebijakan instan, mana mau mengurusi masalah seperti ini. Jika misalkan dana APBN dianggarkan 20% tentu banyak pos lain yang harus dipangkas sehingga kinerja mereka kelihatan buruk. Padahal mereka perlu 'terlihat' bagus untuk kepentingan pemilu mendatang.
Belakangan setelah menonton TVOne dan melihat sosok 'orang atas' partai tertentu, saya jadi berpikir negatif, "Jangan-jangan ada kepentingan politik di masalah ini." Jika melihat kampanye terselubung 'bodoh' yang dilakukan oleh Capres dari partai itu, hanya orang bodoh yang termakan oleh omongannya.
"Bagaimana harga-harga sekarang?"
Kesal sekali mendengar omongan itu. Padahal carut marut di negara kita juga adalah warisan dari pemerintah terdahulu yang dipimpinnya.
Dari kampanye 'bodoh' itu saya berpikir ada kepentingan politik untuk melakukan 'pembodohan' publik agar mereka tetap bisa menang pemilu. Agar mereka bisa dengan mudah menempatkan kader-kadernya di jajaran pemerintahan. Iya, hanya orang bodoh yang akan memilih mereka. Hanya orang bodoh yang tidak tahu bahwa janji mereka hanya surga telinga saja.

Semoga dugaan saya salah dan mereka benar-benar punya niat untuk membenahi negara kita.


Continue reading...